Jumat, 13 Maret 2009

The GOOD

Dalam ayat-ayat al-Qur’an dan kalimat-kalimat para pemuka agama, terkadang didapatkan ungkapan-ungkapan tentang Tuhan dimana orang akan berpikir bahwa redaksi-redaksi “Tuhan bukanlah jism dan tidak memiliki tiplogi jism” bertentangan dengan redaksi seperti “Tangan Tuhan di atas semua tangan “ dan redaksi “ Tuhan maha melihat dan maha mendengar “ atau redaksi “Tuhan menyaksikan perbuatan-perbuatan kalian “. Dalam sejarah dan akidah Islam, kita berhadapan dengan kelompok ‘mujasamah’. Dari namanya sudah jelas bahwa mereka meyakini bahwa Tuhan berjism. Sebab dari kemunculan kelompok tersebut tidak lain kerana kajian yang dangkal terhadap ayat dan riwayat-riwayat di atas.

Akan tetapi dengan memperhatikan ayat-ayat serta riwayat-riwayat yang banyak yang dengan jelas menafikan segala bentuk ciri-ciri, tipologi-tipologi dan tanda-tanda jism dari Tuhan. Dan memperkenalkan Tuhan sebagai Dzat yang Mahasuci dan Dzat yang tidak ada yang menyerupai-Nya serta tidak bisa digambarkan. Jelas bahwa maksud ayat-ayat serta riwayat-riwayat kelompok pertama, tidak lain kecuali bentuk tasybih dan figuratif (majazi).

Penjelasan : kita mengetahui bahwa lafaz-lafaz serta kalimat-kalimat dibuat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sehari-hari dan berputar sekitar topik-topik yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Kenyataan-kenyataan yang berhubungan dengan mabda, ma’ad, ketuhanan dan sifat-sifat Tuhan, terpaksa harus dijelaskan dengan lafaz-lafaz dan kalimat-kalimat tersebut. Karena tidak ada jalan lain selain ini dan lafaz-lafaz tersebut berhubungan dengan perkara-perkara materi, dan harus digunakan untuk menyesuaikan dan menyamakan dengan arti-arti baru yang berhubungan dengan alam non materi. Seperti, ketika kita ingin berkata bahwa Tuhan mengetahui semua obrolan dan suara-suara, tidak ada jalan lain kita harus berkata “ Tuhan mendengar perkataan”. Maksud kalimat “ mendengar” adalah bukan mendengar dengan telinga, akan tetapi mengetahui semua perkataan. Begitu juga berhubungan dengan penglihatan dan sejenisnya, maksud dari itu semua adalah “hasil” dari melihat dan sejenisnya.

Oleh karenanya ungkapan Tuhan ‘indah’, maksunya bukanlah keindahan jism, akan tetapi maksudnya adalah kesempurnaan hakiki. Karena Tuhan meruapakan satu wujud yang memiliki seluruh kesempurnaan baik yang bisa digambarkan maupun yang tidak, walhasil wujud seperti ini merupakan wujud yang indah. Begitu pula maksud dari ‘bertemu’ dengan Tuhan di alam lain, bukanlah pertemuan dan berhadapan dengan Tuhan, akan tetapi maksudnya adalah menyaksikan bukti-bukti kekuasaan, kebesaran dan keadilan Tuhan ( yaitu berupa pahala dan balasan semua perbuatan ). Itu semua merupakan tanda-tanda keberadaan Tuhan dan bukti-bukti sifat-sifat-Nya, dimana pertemuan dengan semua itu dianggap sebagai ganti pertemuan dengan Tuhan. Bahkan diriwayatkan dari Amirul Mukminin As, ia berkata : “ Aku tidak melihat sesuatu kecuali aku melihat Allah swt. Sebelumnya, setelahnya dan bersamanya. “ Maksud dari ucapan ini adalah aku menyaksikan bukti-bukti ilmu dan kekuasaan Tuhan di dalam segala sesuatu.

My Islam

1. Apabila kamu melewati taman-taman surga makan dan minumlah sampai kenyang. Para sahabat lalu bertanya, “Apa yang dimaksud taman-taman surga itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Kelompok zikir (Kelompok orang yang berzikir atau majelis taklim).” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

2. Menyebut-nyebut Allah adalah suatu penyembuhan dan menyebut-nyebut tentang manusia adalah penyakit (artinya penyakit akhlak). (HR. Al-Baihaqi)

3. Demi yang jiwaku dalam genggamanNya, kalau kamu selamanya bersikap seperti saat kamu ada bersamaku dan mendengarkan zikir, pasti para malaikat akan bersalaman dengan kamu di tempat tidurmu dan di jalan-jalan yang kamu lalui. Tetapi, wahai Handhalah (nama seorang sahabat) kadangkala begini dan kadangkala begitu. (Beliau mengucapkan perkataan itu kepada Handhalah hingga diulang-ulang tiga kali). (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

4. Rasulullah Saw menyebut-nyebut Allah setiap waktu (saat). (HR. Muslim)

5. Perumpamaan orang yang berzikir kepada Robbnya dan yang tidak, seumpama orang hidup dan orang mati. (HR. Bukhari dan Muslim)

6. Nyanyian dan permainan hiburan yang melalaikan menumbuhkan kemunafikan dalam hati, bagaikan air menumbuhkan rerumputan. Demi yang jiwaku dalam genggamanNya, sesungguhnya Al Qur’an dan zikir menumbuhkan keimanan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan rerumputan. (HR. Ad-Dailami)

7. Dua kalimat ringan diucapkan lidah, berat dalam timbangan dan disukai oleh (Allah) Arrohman, yaitu kalimat: “Subhanallah wabihamdihi, subhanallahil ‘Adzhim” (Maha suci Allah dan segala puji bagi-Nya, Maha suci Allah yang Maha Agung). (HR. Bukhari)

8. Ada empat perkara, barangsiapa memilikinya Allah akan membangun untuknya rumah di surga, dan dia dalam naungan cahaya Allah yang Maha Agung. Apabila pegangan teguhnya “Laailaha illallah”. Jika memperoleh kebaikan dia mengucapkan “Alhamdulillah”, jika berbuat salah (dosa) dia mengucapkan “Astaghfirullah” dan jika ditimpa musibah dia berkata “Inna lillahi wainna ilaihi roji’uun.” (HR. Ad-Dailami)

9. Maukah aku beritahu amalanmu yang terbaik, yang paling tinggi dalam derajatmu, paling bersih di sisi Robbmu serta lebih baik dari menerima emas dan perak dan lebih baik bagimu daripada berperang dengan musuhmu yang kamu potong lehernya atau mereka memotong lehermu? Para sahabat lalu menjawab, “Ya.” Nabi Saw berkata,”Zikrullah.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

10. Menang pacuan “Almufarridun”. Para sahabat bertanya, “Apa Almufarridun itu?” Nabi Saw menjawab, “Laki-laki dan wanita-wanita yang banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Muslim)

Penjelasan:
Almufarid ialah orang yang gemar zikrullah dan selalu mengamalkannya dan tidak peduli apa yang dikatakan atau diperbuat orang terhadapnya.

11. Seorang sahabat berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya syariat-syariat Islam sudah banyak bagiku. Beritahu aku sesuatu yang dapat aku menjadikannya pegangan.” Nabi Saw berkata, “Biasakanlah lidahmu selalu bergerak menyebut-nyebut Allah (zikrullah).” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

12. Sebaik-baik zikir dengan suara rendah dan sebaik-baik rezeki yang secukupnya. (HR. Abu Ya’la)

Penjelasan:
Rezeki yang secukupnya artinya yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dan keperluan dan tidak berlebih-lebihan.

13. Di antara ucapan tasbih Rasulullah Saw ialah :

“Maha suci yang memiliki kerajaan dan kekuasaan seluruh alam semesta, Maha suci yang memiliki kemuliaan dan kemahakuasaan, Maha suci yang hidup kekal dan tidak mati.” (HR. Ad-Dailami)

14. Aku bertanya, “Ya Rasulullah, apa keuntungan dan keberuntungan yang diperoleh dari majelis zikir (majelis taklim)?” Nabi Saw menjawab, “Keuntungan dan keberuntungan yang diperoleh dari majelis zikir (majelis taklim) ialah surga.” (HR. Ahmad)

15. Tiada amal perbuatan anak Adam yang lebih menyelamatkannya dari azab Allah daripada zikrullah. (HR. Ahmad)

16. Wahai Aba Musa, maukah aku tunjukkan ucapan dari perbendaharaan surga? Aku menjawab, “Ya.” Nabi berkata, “La haula wala Quwwata illa billah.” (Tiada daya upaya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).” (HR. Ibnu Hibban dan Ahmad)